Pada akhirnya, kita akan terjebak dalam simbolitas gambar. Fenomena metafor materialistik akibat berkembangnya dunia hiper-realitas: dunia topeng. Sebuah dunia di mana segalanya diwakilkan oleh rekayasa model (citraan, halusinasi, simulasi). Kita dipaksa percaya dengan let the picture speaks atauwhat you see is what you get. Kita dipaksa masuk ke dalam dunia rekayasa. Saya lebih senang menyebutnya dunia manekin.
Yang saya ingin bicarakan di sini adalah sebuah fenomena di mana maraknya penggunaan gambar dan gambaran sebagai sebuah representatif absolut dari realitas. Terlalu banyak topeng (rekayasa) dalam dunia kita. Saya bicara “kita” karena bisa jadi “saya”, “anda”, atau “saya dan anda” berhimpunan di dalamnya. Mengenakan topeng membentuk jadi diri. Kita diarahkan untuk lebih percaya kepada makna superfisial ketimbang realitas. Untuk itu, kita pun harus menggunakan wajah palsu. Siapa yang tahu?
Seperti foto yang nampak begitu indah. Pernahkah melihat foto pemandangan yang membuat kita takjub? Tentu pernah. Sejuta kali kita perhatikan, sebanyak itu pula kita takjub. Semakin besar pixelyang kita lihat, semakin tajam pencitraan gambar. Tetapi, apakah gambar tersebut menyatakan realitas? Ungkapan let the picture speaks bisa saja diterima sebagai pengganti gambar itu sendiri. Namun, sekali lagi, apakah pernyataan dari gambar itu mendeskripsikan yang sesungguhnya? Tidak. Gambar tersebut berbicara untuk dirinya sendiri (sebagai gambar), bukan representasi isi dari realitas (pemandangan sesungguhnya). Gambar akan selalu berupaya memindahkan dunia nyata ke dalam dunia metrik spasial.
Bukankah kebanyakan kita seperti itu? Melihat gambar(an) ganteng atau cantik sedikit saja segera meleleh. Memaknai sebuah kegantengan atau kecantikan dengan fetisisme. Seolah gambaran itu membentuk jati diri dan representasi jiwa, bahkan ruh. Ganteng dan cantik merupakan model sederhana dari gambaran arbitrer (palsu, rekayasa, manasuka). Lalu, bagaimana dengan nilai yang lebih kompleks seperti religiusitas, moral, akhlak? Seperti yang kita lihat di permukaan sangat baik, shalih, cerdas, aktif dan segudang gambaran artifisial lainnya, siapa nyana bertolak belakang dengan itu semua? Ia yang dikagumi berjuta jiwa karena simbolitas cantik atau ganteng, baik, shalih, cerdas, aktif dsb ternyata “pangkalnya jauh, ujungnya belum tiba”. Tidak seperti potret (gambar) yang selama ini dicitrakan dan diceritakan terhadap dirinya.
Sebab itu, (akan) terlalu banyak kekecewaan yang muncul akibat kekaguman berlebihan terhadap gambar(an). Kebanyakan kita kagum dengan deskripsi semu yang disampaikan oleh gambar(an). (Biasanya) Kita sadar setelah mendatangi langsung potret tersebut. Menginjakkan kaki tepat di mana foto—yang telah membuat kita takjub—tersebut diambil. Dan, oh! Ternyata tak seperti yang di(-)gambar(kan)—maksudnya tak seperti yang di gambar atau digambarkan. Jika sudah demikian jangan salahkan gambar! Salahkan diri sendiri mengapa percaya begitu saja dengan gambar(an).
Pada akhirnya, segala gambaran yang kita terima hanyalah alegorisme atau narasi dengan maksud lain. Sebuah fraktalisme nilai: ketika gambar(an) diproduksi melimpah ruah, justru menimbulkan regularitas di mana secara kultural kita dipaksa untuk menerimanya. Sebuah kehampaan nilai. Masih mau ditipu dengan (hanya) gambar yang bahkan menjadi topeng?