"Hari ini, lagi-lagi, janji terucap. Nama Tuhan, lagi-lagi, dibawa-bawa. Semoga, kali ini Tuhan tidak akan membiarkan namanya dipermainkan lagi."
Untuk mereka yang berjanji atas nama Tuhan. #ntms

Pertanyaan Mainstream

Orang yang menunda pernikahan, bisa jadi dia sedang merintis sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar menikah. Jadi berhentilah bertanya “kapan nikah?”. Itu pertanyaan mainstream yang—menurut hemat saya—hanya basa-basi yang tidak terlalu penting. 

Cobalah ganti pertanyaan itu dengan “Kapan nulis buku?”, “Kapan bikin proyek sosial lagi?”, “Kapan neliti lagi?”, “Kapan lanjut S2-S3?”, “Kapan ngebolang lagi?”, “Kapan ikut kompetisi lagi?”, “Kapan diskusi lagi?”, “Kapan bikin ini-itu lagi?” dan sebagainya yang berkontribusi terhadap perbaikan umat. Bisa jadi mereka yang ditanya sedang memikirkan itu dan lebih senang untuk ditanya itu. Mereka sedang mempersiapkan sesuatu untuk umat kelak, sehingga tidak sempat memikirkan dirinya sendiri.

Bisakah kita bertanya dengan sudut pandang berbeda? Untuk tidak menjadi mainstream yang tak berdaya guna?

"Seandainya Fatih tahu jauh di timur sana ada negeri surga yang bernama nusantara, mungkin dia akan membelokkan armada dan menjadikannya sebagai ibu kota."
Indonesia itu surganya dunia. Titik.
"Jika kau memulainya dengan ‘bismillah’ dan mengakhirinya dengan ‘alhamdulillah’, maka di antara keduanya haruslah berproses dengan ‘-lillah’ jua. Di situlah kesempurnaan berkah."

Berpikirlah berulang kali sebelum kita melakukan justifikasi. Apa yang kita lihat bisa jadi hanya permukaan yang penuh dengan tafsiran. 

My Beautiful Woman based on a true story. 

"Jika melakukan sesuatu bukan karena Allah, percayalah itu hanya buang-buang waktu."
"Kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai di dunia ini adalah mekanisme Tuhan dalam mempertahankan cinta-Nya kepada kita. Dia ingin kita sadar bahwa ada yang tidak akan pernah pergi meninggalkan kita selamanya."

Senantiasa memahami orang lain agar kita pun dipahami oleh mereka. Mengertilah, bahwa setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda dengan kita. Sudah semestinya seorang Muslim memiliki empati tinggi kepada orang lain. Sebab itu sebenar-benarnya akhlak.

Di İstanbül banyak anak-anak kecil lucu bin imut seperti ini. Ini saya candid. Kalau seandainya boleh, pulang nanti saya bawa satu aja. Atau harus bawa yang lain dari sini? ☺

Di İstanbül banyak anak-anak kecil lucu bin imut seperti ini. Ini saya candid. Kalau seandainya boleh, pulang nanti saya bawa satu aja. Atau harus bawa yang lain dari sini? ☺

Menjadi Sempurna

Tidak ada kebaikan, sekalipun dalam beribadah, jika untuk melakukannya justru menyakiti orang lain. Seperti berpuasa tapi mencibir orang yang tidak berpuasa, mengenakan jilbab syar’i tapi menyindir yang tak berjilbab, membuat status Islami tapi membicarakan orang lain, menyelak antrian wudhu karena alasan buru-buru, tilawah dengan suara keras yang mengganggu, azan dengan suara jelek dan rusuh, menyikut orang lain saat shalat dengan alasan khusyuk, dsb.

Ibadah yang sempurna itu berawal dari niat yang sempurna dan akan menghasilkan kualitas yang sempurna pula. Sesuatu yang sempurna untuk Allah, maka Allah akan menjaga kita dengan kesempurnaan-Nya. Seperti puasa menjaga mulut kita, jilbab menjaga akhlak kita, shalat menjaga pikiran kita, tilawah menjaga hati kita, dsb.

Itulah kenapa kita harus menjadi muslim yang kaffah atau menjadi muslim seutuhnya.

I want to tell the world a story. A story about..

"Kau tahu bagian terbaik dari cinta? Tak banyak bertanya; yang ada hanya cerita."

Yakin Demokrasi Mati?

Isu Pilkada via DPRD sebenarnya asik lho untuk kita pandang dari sisi positif, yaitu menghidupkan diskursus dan memahami demokrasi itu sendiri. Dibanding membuat stereotyping atau judging kepada kelompok yang berseberangan, dengan diskursus kita bisa menambah ilmu dan mengembangkan sikap toleran.

Pertama, sebelum menyebut “demokrasi telah mati” sebab hak pilih langsung menjadi diwakilkan, apakah sudah membaca mengenai varian demokrasi? Bahwa mewakilkan hak pilih adalah bagian dari demokrasi. Beda kasus jika tidak memiliki kepercayaan terhadap orang yang mewakili. Itu bukan masalah demokrasi, itu masalah diri sendiri. Kedua, sebelum menggunakan kata “perampok” yang ditujukan kepada wakil rakyat yang konstitusional melakukan demokrasi—hanya karena mereka berbeda koalisi, apakah teringat sila ke-4 dalam Pancasila? Sangat jelas bahwa pilihan mereka adalah manifestasi rakyat. Bukan rakyat 53% saja. Kadang yang menang sedikit ini tidak mempedulikan yang 47%. Seolah 53% itu adalah 100% rakyat versi sendiri. Sikap mengklaim nama rakyat itu memang sangat tidak baik. Ketiga, sebelum menghina presiden sendiri karena kepentingan kelompok tidak terakomodasi, apakah sudah melihat pelbagai kemajuan yang disumbangkan jauh lebih baik dari presiden-presiden sebelumnya? Semenjak era reformasi, presiden yang sekarang jauh lebih baik. Setidaknya, jika dibandingkan dengan presiden yang hobi menjual aset bangsa.

Ayo kita baca lagi tentang demokrasi, minimal dari Wikipedia—kalau bisa baca footnote-nya karena itu sumber sesungguhnya. Agar ketika bersikeras pilihan orang lain berbeda dengan pilihan kita, kita tidak mengklaim paling benar dan menjelek-jelekkan mereka. Yang parahnya, sudah ngotot, salah lagi. Mari manfaatkan momen ini untuk menjadi cerdas.

"Andaikan kau mau menunggu. Yang kau rugi hanyalah masalah waktu."
Ini kenyataan yang menyakitkan teman-teman. Wajar jika banyak penolakan terhadap UU Pilkada baru yang menyatakan kepala daerah dipilih oleh DPRD. Sebab di DPR sendiri, komposisi anggota terpilih yang tersangka korupsi begitu banyak.

Apa ada pilihanmu di dalam list itu?

Alhamdulillahnya, saya masih percaya dengan partai yang tidak ada di dalam list itu. Saya memilih mereka dan mendukung perjuangan mereka. Meski ada saja kekurangan dalam diri dan kerja mereka, tapi satu hal yang kita semua harus tahu saat ini: mereka tidak ada di dalam list di atas. Itu modal saya memberikan suara ke mereka.

Saya doakan semoga mereka tetap amanah.

Ini kenyataan yang menyakitkan teman-teman. Wajar jika banyak penolakan terhadap UU Pilkada baru yang menyatakan kepala daerah dipilih oleh DPRD. Sebab di DPR sendiri, komposisi anggota terpilih yang tersangka korupsi begitu banyak.

Apa ada pilihanmu di dalam list itu?

Alhamdulillahnya, saya masih percaya dengan partai yang tidak ada di dalam list itu. Saya memilih mereka dan mendukung perjuangan mereka. Meski ada saja kekurangan dalam diri dan kerja mereka, tapi satu hal yang kita semua harus tahu saat ini: mereka tidak ada di dalam list di atas. Itu modal saya memberikan suara ke mereka.

Saya doakan semoga mereka tetap amanah.